Mengapa harus berasuransi?

Banyak sekali diantara kita yang masih skeptik (ragu-ragu) atau sudah terlebih dahulu sinis, negatif atau defensif mati-matian jika ditawarkan program perencanaan keuangan seperti asuransi, bahkan tidak sedikit yang langsung alergi bila mendengar kata asuransi disebutkan.
Pengalaman pribadi saya, sebagian teman-teman saya seketika menjaga jarak dengan saya begitu mereka tahu saya berprofesi sebagai agen, seolah-olah saya mengidap salah satu jenis penyakit menular yang berbahaya. Pada suatu kesempatan lain, saya juga pernah menerima pengalaman yang kurang menyenangkan tentang profesi saya sebagai agen di muka umum, yang menurutnya seorang agen hanya tidak lebih dari seorang tenaga pemasaran yang hanya manis di depan tapi pahit di belakang. Tapi saya tidak kaget dengan reaksi-reaksi seperti itu karena saya merasa bukanlah seorang tenaga pemasaran seperti yang dimaksud dan juga saya mengerti kalau tipe orang yang perfeksionis akan selalu bersikap hati-hati dan memiliki banyak pertimbangan terhadap suatu produk/informasi baru, yang menurut pengetahuan mereka dapat menyebabkan kerugian di pihaknya, saya juga maklum karena mungkin sebagian dari mereka masih banyak yang belum mengerti dan memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai asuransi.

 

Berikut beberapa penjelasan, mengapa kita harus berasuransi?
  1. Risiko ada di mana-mana
    Kita tinggal di Indonesia, risiko besar selalu mengintai. Bencana alam, gempa bumi, tsunami, huru-hara, terorisme, kebakaran, banjir, seolah tidak terpisahkan dari negeri ini. Bahkan kecelakaan ketika berada di angkutan umum maupun pribadi sangat sering terjadi. Dengan memiliki asuransi yang mengcover semuanya itu, tentu setidaknya secara finansial kita akan lebih aman dan terjaga dari hal-hal besar yang akan menguras dana kita sekalipun risiko tersebut terjadi, karena risiko ini terus mengintai setiap individu maupun aset bisnis yang ada.
  2. Sayang dengan keluarga
    Bagi yang belum memiliki asuransi jiwa, bisa dikatakan dia tidak sayang dengan keluarga. Mengapa begitu? Ya, asuransi jiwa dimiliki bukan menghidupkan kembali yang meninggal, melainkan karena yang masih hidup harus tetap hidup. Siapa yang harus tetap hidup jika kita meninggal? Ya, mereka adalah keluarga kita, anak-anak kita, bahkan bisa jadi orang tua kita yang sudah pensiun menjadikan kita pencari nakah buat mereka juga. Jika seorang pencari nafkah meninggal, maka keluarga akan merasakan dampaknya. Yang meninggal sih udah ga bisa diapa-apain lagi, tapi yang masih hidup tentu akan sangat menderita, dan gaya hidupnya tentu akan jauh berubah, berubah semakin rendah.
  3. Beli uang besar dengan uang kecil
    Lebih mudah mana, menyisihkan dana sebesar 1 juta per bulan, ataukah 500 juta jika tiba-tiba dokter memvonis Anda dengan penyakit yang biaya pengobatannya tinggi? Kita tahu beberapa jenis penyakit seperti tumor, kanker, bisa menghabiskan dana yang tidak sedikit. Bahkan banyak kasus orang kaya jatuh miskin karena uangnya habis untuk berobat. Belum lagi kalau akhirnya meninggal dunia, wah udah uang habis buat berobat, keluarga yang ditinggalkan bisa-bisa harus membayar hutang jika ada uang yang dipinjam. Ya, kesehatan itu mahal harganya. Tapi akan semakin mahal jika Anda tidak memiliki asuransi.
  4. Mempersiapkan hari tua yang lebih baik
    Apa hubungannya asuransi dengan persiapan hari tua? Ada!!
    Saat ini telah tersedia produk asuransi jiwa yang dihubungkan dengan investasi, yaitu Unit Link. Hampir semua perusahaan asuransi jiwa kini menjual produk Unit Link. Dengan memiliki polis asuransi Unit Link, selain kita berasuransi, kita dapat sekaligus berinvestasi untuk dana hari tua kita. Ingat, pensiun itu mirip dengan weekend. Pendapatan nol, pengeluaran tinggi. Karena itu persiapkan hari tua Anda sejak saat ini.
All Rights Reserved. Copyright © 2015 - PusatAsuransi.com Contact Us