BMAI Catat 595 Sengketa Asuransi dalam 10 Tahun Terakhir

BMAI Logo

 

Jakarta-Badan Mediasi Asuransi Indonesia (BMAI) mencatat, terdapat 595 kasus yang masuk dalam sepuluh tahun terakhir. Dari 595 kasus tersebut, pengaduan yang berasal dari asuransi umum dan jiwa mencatat jumlah yang hampir seimbang.

 

Sementara itu, pada tahun 2015 saja, jumlah kasus yang masuk sebanyak 50 kasus dengan 30 kasus berasal dari asuransi umum dan 20 kasus berasal dari asuransi jiwa. Jumlah kasus pada 2015 tersebut menurun tipis dibandingkan pada 2014 yang berjumlah 51 kasus dengan 31 kasus berasal dari asuransi umum dan 20 kasus berasal dari asuransi jiwa.

 

Ketua BMAI Frans Lamury menjelaskan, kejelasan informasi di kontrak baku menjadi kasus yang paling banyak di BMAI. Pasalnya, banyak pemegang polis yang tidak membaca kontrak bakunya dengan seksama sehingga bersengketa dengan perusahaan asuransi.

 

“Alasan pemegang polis biasanya mereka enggan membaca kontrak baku yang tebal dan tulisan kecil-kecil sehingga supaya cepat mereka langsung tanda tangan saja, namun ketika ada klaim, mereka baru membaca kontrak baku dan baru tahu banyak hal yang seharusnya dikecualikan dan tidak bisa diklaim,”tegas dia pada saat acara temu wartawan di acara Ulang Tahun ke-10 BMAI di Hotel Sahid Jaya, Kamis (12/5).

 

Frans mengungkapkan, dari setiap kasus yang masuk, BMAI selalu menindaklanjuti dengan tiga tahapan. Adapun tahap pertama adalah proses mediasi, yakni penanganan sengketa dengan mencari kesepakatan secara damai di antara tertanggung dan penanggung. Selanjutnya tahap kedua adalah proses ajudifikasi melalui majelis ajudifikasi yang ditunjuk BMAI. Adapun tahap terakhir adalah arbitrase apabila nilai sengketa melebihi batas nilai tuntutan ganti rugi yakni Rp 750 juta per klaim untuk asuransi umum dan Rp 500 juta per klaim untuk asuransi jiwa dan jaminan sosial.

 

Berdasarkan data BMAI, pada tahun 2015, proses penyelesaian dengan menggunakan mediasi mencapai 12 kasus dan penyelesaian menggunakan ajudifikasi mencapai 4 kasus. Sedangkan pada tahun 2014, proses penyelesaian sengketa dengan menggunakan mediasi mencapai 21 kasus dan penyelesaian sengketa menggunakan ajudifikasi mencapai 16 kasus.

 

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kusumaningtuti S. Soetiono menjelaskan, berdasarkan data yang masuk ke Financial Customer Care (FCC) OJK, jumlah pengaduan yang masuk mencapai 3.700 kasus dalam tiga tahun terakhir dengan 900 kasus diantaranya terkait dengan asuransi. Namun sejak OJK membentuk enam Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa (LAPS), pengaduan yang masuk langsung diserahkan ke LAPS dan OJK hanya melakukan proses pre-mediasi.

 

BMAI, lanjut Kusumaningtuti, merupakan salah satu LAPS yang sudah ada sebelum OJK berdiri. Dengan sudah berumur 10 tahun, BMAI menjadi role model bagi LAPS lainnya. “Dengan OJK hanya melakukan proses pre-mediasi, maka LAPS yang akan melakukan proses mediasi, ajudifikasi sampai arbitrase,” ucap dia.

 

SUMBER
All Rights Reserved. Copyright © 2015 - PusatAsuransi.com Contact Us